-
Gambar Proyeksi
Untuk menyajikan sebuah benda tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi dipergunakan cara proyeksi.
Jika
sebuah benda dilihat dari sebuah titik penglihatan O, seperti gambar
4.1 maka proyeksi dari benda ini pada bidang proyeksi P disebut proyeksi
perpspektif dan gambarnya disebut gambar perspektif
Jika
titik penglihatannya berada di tak terhingga, maka garis-garis proyeksi
( garis-garis penglihatan) menjadi garis sejajar, seperti pada gambar
4.2 . Proyeksi ini disebut proyeksi sejajar
Sedangkan proyeksi sejajar dibagi dua yaitu :
Gambar 4.1. Proyeksi Perspektif Gambar 4.2. Proyeksi Sejajar
-
Proyeksi Aksonometri ( sejajar yang tegak lurus)
Jika
sebuah benda disajikan dalam proyeksi orthogonal dan salah satu bidang
sisinya frontal ( sejajar bidang proyeksi) seperti tampak pada gambar
4.3a, hanya sebuah bidang saja yang tergambar pada bidang proyeksi, maka
tiga muka dari benda itu akan terlihat serentak, dan gambar demikian
memberi bentuk benda seperti sebenarnya( mudah dimengerti/dipahami
bentuk bendanya) gambar 4.3b. Cara demikian disebut proyeksi
aksonometri. Tiga bentuk proyeksi aksonometri adalah isometric, dimetri
dan trimetric.
Gambar 4.3. Proyeksi Orthogonal
-
Proyeksi Isometri
Sebagai
contoh diambil sebuah kubus. Pertama-tama kubus ini diletakkan seperti
pada gambar 4.4a. Kemudian kubus ini dimiringkan sehingga diagonal benda
berdiri tegak lurus bidang vertical ( bidang proyeksi). Sudut antara
bidang bawah kubus dan bidang horizontal menjadi 35o 16'
Gambar 4.4b Jika kubus ini diproyeksikan pada bidang proyeksi akan
menunjukkan ketiga bidang dari kubus . Dalam gambar proyeksi ini
rusuk-rusuknya AB, AD dan AE ketiga-tiganya sama panjang dan saling
berpotongan pada sudut yang sama pula, yaitu 120o. Pada
gambar 4.4c diperlihatkan skala perpendekan dari rusuk-rusuknya pada
gambar proyeksi, yaitu 0,82 dari panjang rusuk sebenarnya. Proyeksi
demikian disebut proyeksi isometric
Gambar 4.4 Proyeksi isometri
-
Proyeksi dimetri
Gambar 4.5 dimetri Gambar 4.6. Proyeksi trimetri
-
Proyeksi trimetri
Harga-harga dari sudut dan skala perpendekan dari proyeksi aksonometri yang khusus terdapat pada table dibawah ini
Tabel Sudut Proyeksi dan skala perpendekan
|
Cara Proyeksi
|
Sudut Proyeksi (o)
|
Skala Perpendekan
| |||
|
α
|
β
|
Sumbu x
|
Sumbu y
|
Sumbu z
| |
|
Proyeksi Isometri
|
30
|
30
|
82
|
82
|
82
|
|
Proyeksi Dimetri
|
15
35
40
|
15
35
10
|
73
86
54
|
73
86
92
|
96
71
92
|
|
Proyeksi Aksonometri
|
20
30
30
35
45
|
10
15
20
25
15
|
64
65
72
77
65
|
83
86
83
85
92
|
97
92
89
83
86
|
-
Gambar Isometri
Gambar 4.7 Kedudukan sumbu-sumbu isometric
Gambar isometric dari sebuah benda dengan sebuah bidang miring
Gambar 4.8
Gambar
4.9. Perbandingan beberapa jenis proyeksi miring proyeksinya miring
terhadap bidang proyeksi. Pada proyeksi ini benda dapat diletakkan
sesukanya tetapi biasanya permukaan depannya diletakkan frontal terhadap
bidang proyeksi vertical. Dengan demikian bentuk permukaan depan
tergambar seperti sebenarnya, yang juga terdapat pada proyeksi
orthogonal. Sudut yang menggambarkan kedalamannya biasanya sudut 30, 45
dan 60 derajat terhadap sumbu horizontal yang disebut juga sudut
proyeksi. Pada rusuk yang miring ini bila dipakai skala perpendekan= 0,5
dan sudut proyeksi 45o memberikan bentuk gambar yang jelas dan mudah dipahami seperti sebenarnya dan penggambarannya agak mudah.
Gambar 4.10 memperlihatkan gambar sebuah benda dalam proyeksi isometric dan proyeksi miring dapat dipakai sebagai perbandingan Gambar 4.10 Perbandingan Gambar isometric dan gambar Proyeksi Miring
Cara-cara Proyeksi yang digunakan dalam gambar teknik
-
Dasar-dasar Proyeksi orthogonal
Untuk
dapat memproyeksikan benda secara orthogonal ( tegak lurus) perlu kita
pahami dasar-dasar proyeksi orthogonal. Benda tidaj lain dibatasi oleh
bidang dan garis potong dari bidang bidang tersebut. Untuk dapat
memproyeksikan benda tersebut, kita harus dapat memproyeksikan bidang
dan garis. Untuk memproyeksikan bidang sama dengan memproyeksikan 2
garis yang berpotongan pada bidang tersebut. Sedang untuk memproyeksikan
garis adalah sama dengan memproyeksikan dua titik yang tidak berimpit
pada garis tersebut. Berikut contoh proyeksi titik pada bidang proyeksi
gambar 5.1a proyeksi garis PG pada bidang proyeksi, masing-masing untuk
PQ // bidang proyeksi. Gambar 5.1b, PQ terletak sebarang terhadap bidang
proyeksi, gambar 5.1.c dan PQ tegak lurus bidang proyeksi gambar 5.1d
sedang pada gambar 5.2 menunjukkan urut-urutan proyeksi orthogonal dari
suatu benda pada satu bidang proyeksi.
Gambar 5.1. Proyeksi Orthogonal dari titik dan garis
Gambar 5.2. Proyeksi Orthogonal dari benda
-
Proyeksi Orthogonal dalam gambar teknik
a. Proyeksi Eropa atau proyeksi sudut pertama dan
b. Proyeksi Amerika atau proyeksi sudut ketiga
a. Proyeksi Eropa
Ketentuan dari proyeksi eropa, benda terletak antara pengamat dan bidang proyeksi. Cara memproyeksikan :
Benda
yang akan kita proyeksikan harus kita rencanakan mana yang kita anggap
sebagai pandangan depan, misalnya A adalah pandangan depan, B adalah
pandangan atas, C adalah pandangan kiri, D Pandangan Kanan, E pandangan
bawah, dan F pandangan Belakang ditunjukkan oleh anak panah pada gambar
5.3a. Ini menunjukkan dari arah mana pengamat/ orang akan
memproyeksikan.
Kemudian benda kita masukkan
kedalam kubus yang transparan ( tembus pandang) gambar 5.3b. Dengan
kekentuan dari proyeksi eropa di atas, maka gambar proyeksi pandangan
depan ( A) ada dibidang sisi belakang dari kubus, gambar proyeksi
pandangan atas (B) ada di sisi bawah, gambar proyeksi pandangan kiri (
C) ada di sisi kanan, Gambar proyeksi pandangan kanan ( D) ada di sisi
kiri, GAmbar proyeksi pandangan bawah (E) ada dibidang sisi atas dan
gambar proyeksi belakang ada dibidang sisi depan Gambar 5.3b
Kemudian
sebagian dari rusuk-rusuk dari kubus tersebut kita potong dan bidang
sisinya kita rebahkan kebidang belakang dari kubus, sehingga menjadi
satubidang dengan gambar proyeksi pandangan depan.
Bila garis-garis rusuk kubus tersebut kita hilangkan, maka terlihat hasil proyeksi eropa seperti pada gambar 5.3d Ciri-ciri dari hasil proyeksi eropa :
- Pandangan atas terletak dibawah pandangan depan
- Pandangan kiri terletak dikanan pandangan depan
- Pandangan kiri terletak di kiri pandangan depan
- Panfangan bawah terletak di atas pandangan depan
Gambar 5.4. Proyeksi Eropah atau Proyeksi Sudut Pertama
b. Proyeksi Amerika
Ketentuan
dari proyeksi amerika , bidang proyeksi terletak antara pengamat dan
benda. Cara memproyeksikannya : Benda yang akan kita proyeksikan kita
ambil sama dengan benda yang diproyeksikan dengan cara eropa, gambar
5.3.a, termasuk arah memandangnya.
Kemudian
benda kita masukkan dalam kubus yang transparan ( tembus pandang) gambar
5.4a. Dengan ketentuan dari proyeksi amerika di atas, maka gambar
proyeksi pandangan Depan (A) ada dibidang sisi depan kubus, gambar
proyeksi pandangan atas (B) ada di bidang atas, Pandangan sisi kiri (C)
ada di sisi kiri, pandangan sisi kanan (D) ada di sisi kanan , pandangan
bawah (E) ada di sisi bawah, pandangan sisi belakang (F) ada di
belakang lihat gambar 5.4a
Kemudian sebagian
dari rusuk-rusuk dari kubus tersebut kita potong dan bidang sisinya kita
rebahkan kebidang belakang dari kubus, sehingga menjadi satubidang
dengan gambar proyeksi pandangan depan.
Bila garis-garis rusuk kubus tersebut kita hilangkan, maka terlihat hasil proyeksi Amerika seperti pada gambar 5.4c Ciri-ciri dari hasil proyeksi Amerika :
- Pandangan atas terletak di atas pandangan depan
- Pandangan kiri terletak dikiri pandangan depan
- Pandangan kiri terletak di kanan pandangan depan
- Panfangan bawah terletak di bawah pandangan depan
Gambar 5.4. Proyeksi Amerika atau Proyeksi sudut ketiga
Fungsi dan Sifat Gambar sebagai Gambar Teknik
- Gambar Sebagai Bahasa Teknik
Perbandingan antara bahasa dan gambar diperlihatkan pada tabel dibawah, dimana standard gambar merupakan tata bahasa dari suatu bahasa.
Penerusan informasi adalah fungsi yang penting untuk bahasa maupun gambar. Gambar bagaimanapun adalah bahasa teknik. Oleh karena itu diharapkan bahwa gambar harus meneruskan keterangan-keterangan secara tepat dan obyektif. Dalam hal bahasa, kalimat pendek dan ringkas mencakup keterangan – keterangan dan pikiran-pikiran yang berlimpah. Hal ini hanya dapat dicapai oleh kemampuan, katier dan watak sipenulis. Di lain pihak keterangan dan pikiran demikian hanya dapat dimengerti oleh pembaca yang terdidik
Keterangan-keterangan dalam gambar, yang tidak dapat dinyatakan dengan bahasa, harus diberikan secukupnya sebagai lambing-lambang. Oleh karena itu berapa banyak dan berapa tinggi mutu keterangan yang dapat diberikan dalam gambar tergantung dari bakat perancang gambar ( design drafter). Sebagai juru gambar sangat penting untuk memberikan gambar yang tepat dan mempertimbangkan pembacanya. Untuk pembaca, penting juga berapa banyak keterangan yang dapat dibacanya dengan teliti dari gambar.
Tabel 1 Bahasa dan gambar
| Lisan | Kalimat | Gambar | |
| Indra | Akustik | Visual | Visual |
| Ekspresi | Suara | Kalimat | Gambar |
| Aturan | Tata bahasa | Standard Gambar |
- Fungsi Gambar
- Penyampaian Informasi
- Pengawetan, Penyimpanan dan penggunaan keterangan
Gambar 1.1 Gambar 1.2
- Cara-cara pemikiran dalam penyiapan informasi
Gambar 1.3 Gambar 1.4
- Sifat-sifat gambar
- Internasionalisasi Gambar
Agar supaya tujuan ini dapat dicapai, penunjukan-penunjukan dalam gambar harus sama secara internasional maupun ketentuan-ketentuan dan pengertian cara-cara penunjukan dan lambing harus diseragamkan secara Internasional. Lagipula suatu bahasa tertentu tidak boleh dicantumkan dalam gambar.
- Mempopulerkan gambar
- Perumusan gambar
- Penyederhanaan gambar
- Modernisasi gambar
Materi ini bisa di download di sini :
Alat – alat Gambar dan Penggunaannya
Alat-alat gambar yang dipergunakan dalam bidang
gambar teknik sipil terdiri atas pensil gambar, pena gambar, kotak
jangka, penggaris, penggaris T, sepasang segitiga, mistar ukur, mistar
skala, busur derajat, penghapus, mal bentuk ( sablon) papan gambar, meja
gambar, mesin gambar dan kertas gambar.
Mutu
dari suatu gambar ditentukan dari sarana ( alat-alat gambar) yang baik
dan sumber daya manusianya yang mampu menguasai teknik gambar dan
menggunakan alat-alat gambar dengan tepat. Dibawah ini akan dijelaskan
mengenai pemilihan dan penggunaan alat-alat gambar secara tepat.
a. Pensil Gambar
Ada
tiga golongan kekerasan pensil, yang masing-masing dibagi lagi dalam
tingkat kekerasan. Golongan tersebut adalah keras (H), sedang (F) dan
Lunak (B). Golongan keras dari 9H sampai 4H, golongan sedang dari 3H
sampai B dan golongan lunak dari 2B sampai dengan 7B. Sayang sekali
derajat kekerasan pensil ini masih belum standard sepenuhnya, karena itu
dianjurkan menggunakan satu merek pensil saja agar tepat derajat
kekerasannya.
Untuk menarik garis yang panjang
dengan tebal yang sama ( konstan) sebaiknya pensil dibuat pipih ( baji)
Gambar 2.1a, jadi jangan runcing/konis seperti gambar 2.1.b. Untuk
membuat pensil pipih dapat digunakan kertas amplas.
Sekarang
sudah banyak dipakai pensil yang diisi kembali ( pensil mekanik). Isi
dari pensil ini mempunyai tingkat kekerasan yang bermacam-macam demikian
juga dengan ukuran diameter isinya dapat disesuaikan dengan ukuran
tebal garis sehingga tidak perlu lagi penajaman. Ukuran-ukuran yang ada
adalah 0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 mm dan kekerasannya dapat dipilih dari HB
atau F, H, 2H dan 3H
Supaya hasil dari garis
yang dibuat dengan pensil tersebut baik, maka pensil terhadap mistar
harus mempunyai sudut 90 derajat, sedang kecondongan dari arah
gerakannya bersudut antara 80-90 derajat Gambar 2.2.
Gambar 2.1 dan Gambar 2.
b. Pena Gambar
Pena tarik:
Ujung pena yang terbelah itu dapat diatur, hingga orang mendapatkan
lebar/tebal garis yang bermacam-macam. Kedudukan waktu menggaris tegak
lurus keatas gambar. Tinta harus didisi secukupnya, bila terlalu banyak/
sedikit akan menghasilkan garis yang tidak merata tebalnya. Pengisian
tinta pada ujungnya tidak boleh sampai menempel dibagian luar, sehingga
tinta akan menempel pada mistar gambar yang akan menyebabkan turun ke
kertas gambar. Bila sudah diisi tinta secukupnya , harus secepatknya
digunakan, bila tidak digunakan untuk waktu lama akan mongering dan
harus dibersihkan lagi
Rapido : pena ini
mempunyai ujung ( mata pena) dengan macam-macam ukuran seperti pensil
mekanis. Banyak keuntungan dari pena Rapido ini bila dibandingkan dengan
pena tarik :
i. Tidak sering-sering mengisi tinta, sehingga dapat menghemat waktuii. Tidak berada dalam tabung sehingga tidak mudah tumpah, pada pena tarik tinta berada pada mulut pena dan berhubungan langsung dengan udara luar, sehingga cepat kering dan mudah tumpahiii. Tebal tipisnya sangat akurat, sebab ada macam-macam pemilihan mata pena dengan ukuran tebal yang sudah tepat, tidak perlu menyetel/ memeriksa tebal lagi. Saat ini pena tarik sudah ditinggalkan
Gambar 2.4
Untuk mendapatkan hasil gambar tinta yang baik , kerjakan anjuran-anjuran di bawah ini : 1) Pertama-tama gambarlah semua lingkaran, busur lingkaran atau garis lengkung. Lebih mudah menyambung garis lurus pada garis lengkung daripada sebaliknya.
2) Semua garis lurus
digambar berikutnya. Garis-garis tegak lurus digambar dari kiri ke kanan
dan semua garis mendatar dari atas ke bawah gb 2.5. Dengan demikian
garis-garis mempunyai cukup waktu untuk mongering dan kemungkinan "
merusak " garis akan berkurang. Garis yang kering juga diperlukan untuk
garis yang berpotongan. Jika tidak maka hasilnya seperti pada gb. 2.6.
Garis Horisontal Garis vertical Pertemuan
Gambar 2.5 Gambar 2.6
c. Jangka
Ada tiga macam jangka yang dipakai untuk menggambar1) Jangka biasa dengan kaki lurus dengan jarum yang dapat dirubah-rubah sudutnya dengan sekrup dan kaki yang satunya dapat diperlengkapiny dengan tiga macam :
a) Sambungan kaki dengan pensil
b) Sambungan kaki dengan tinta ( disambung dengan rapido)
c) Sambungan kaki dengan jarum
Dengan alat penyambung ( memperpanjang kaki jangka) dapat dihasilkan lingkaran dengan jari-jari 250 mm. Jika diinginkan lingkaran dengan jari-jari yang lebih besar maka dipakai jangka batang. Gb. 2.9.
2) Jangka orlean, digunakan untuk menggambar lingkaran dengan jari-jari yang kecil seperti misalnya untuk pembulatan Gb. 2.10
3) Jangka pegas, kedua kakinya ditahan oleh pegas dibagian atas, untuk menyetel kaki-kakinya dipakai sekrup. Keuntungannya pada waktu digerakkan jari-jarinya tidak mudah berubah dan dapat digunakan untuk jari-jari yang kecil dan besar tergantung dari besarnya jangka tersebut dan dapat dipakai untuk pensil dan tinta.
Dalam menggunakan jangka harus diusahakan agar supaya kedua kakinya tegak lurus pada kertas gambar dan tahanlah dengan tekanan dan putaran yang konstan untuk dapat menghasilkan tebal garis yang sama.
Dewasa ini terdapat sablon lingkaran untuk menggunakan lingkaran-lingkaran kecil. Hal ini hanya untuk mempermudah dan mempercepat waktu gambar.
d. Penggaris/ mistar gambar
Penggaris
T terdiri dari landasan ( kepala) dan daun, sehingga membentuk huruf T,
disebut pula penggaris T. Biasa digunakan untuk membuat garis
horizontal yang panjang dengan menekankan landasannya pada tepi kiri
papan gambar dan menggesernya ke atas dan ke bawah. Jenis lain dari
penggaris T adalah yang landasannya dua, satu landasan tetap dan yang
lain dapat bergerak. Dengan mengatur sudut yang dikehendaki dari
landasan yang dapat bergerak ini orang dapat membuat garis panjang yang
tidak horizontal ( miring ). Untuk menarik garis dengan pensil/ tinta
dipakai permukaan penggaris yang condong bukan yang tebal, lihat
penampung dari penggaris Gb. 2.11
Ukuran dari
penggaris T ini biasanya dibuat dari seluloid/mika yang tahan terhadap
perubahan cuaca yaitu panas dan dingin, selain itu juga transparan (
tembus pandang ) Untuk memeriksa kelurusan dari penggaris ini diperlukan
penggaris T yang sudah diperiksa kelurusannya, kemudian permukaan yang
dipakai untuk menggaris dari kedua penggaris T itu dipertemukaan di atas
papan gambar seperti Gb 2.11. bila berimpit betul-betul dan tidak ada
yang renggang berarti T itu lurus.
Gambar 2.11 Penggaris T
e. Segitiga Siku-siku
Sepasang
segitiga siku-siku terdiri dari siku-siku sama kaki dan sebuah segitiga
siku-siku 30° dan 60°, dimana panjang sisi miring segitiga siku-siku
sama kaki hampir sama panjang dengan siku-siku yang terpanjang dari
segitiga yang kedua ( sudut 30° dan 60°) lihat gb 2.12a. Saat ini banyak
dipakai segitiga siku-siku yang dibuat dari seluloid/mika yang tahan
cuaca.
f. Busur Derajat
Busur derajat dibuat dari alumunium atau palstik, biasanya busur derajat ini mempunyai garis-garis pembagi dari 0° sampai dengan 180° gambar 2.15
Gambar 2.15
g. Mesin Gambar
Mesin
gambar adalah sebuah alat yang dapat menggantikan alat-alat gambar
lainnya seperti busur derajat, penggaris T, segitiga, mistar, mistar
skala dsb. Keuntungannya dapat mempercepat penyelesaian gambar dibawah.
Alat ini dapat digunakan untuk menarik garis-garis sejajar, garis tegak
lurus dengan mudah. Penggaris yang dipasang pada alat ini bisa
diganti-ganti sesuai dengan skala yang ingin dipakai 1:1; 1:2 ; 1:5;
1:10 dsb. Sepasang penggaris tegak lurus tersebut dapat digerakkan bebas
disemua permukaan papan gambar
h. Kertas Gambar dan ukurannya
Sesuai
dengan tujuan gambar, bermacam-macam kertas gambar dipakai, seperti
misalnya kertas gambar putih, kertas kalkir dsb. Untuk gambar tata letak
( perencanaan awal) biasanya dipakai kertas gambar putih yang
permukaannya tidak berbulu atau kasar dan menggunakan pinsil. Sedangkan
untuk gambar kerja yang biasanya dibutuhkan lebih dari satu untuk
diperbanyak biasanya menggunakan kertas kalkir
1) Ukuran Kertas A
| Ukuran | X( MM) | Y(MM) | B( garis tepi) |
| A0 | 841 | 1189 | 10 ( 20) MM |
| A1 | 594 | 841 | 10 |
| A2 | 420 | 594 | 10 |
| A3 | 297 | 420 | 10 |
| A4 | 210 | 297 | 10 |
| A5 | 148 | 210 | 10 |
2) Ukuran Kertas B
Ukuran kertas seri B0 adalah : luasnya = √ 2 m2
dan perbandingan panjang dan lebar = 1 : √ 2. Dengan cara penyelesaian
yang sama seperti seri A0 maka didapat ukuran kertas seri B0: panjang x =
1414 mm dan lebar y = 1000 mm B1 : x = 1000 dan y = 707 mm; B2 : x =
707 mm dan y = 500 mm dst.
File Lengkap download di sini :
Garis dan Huruf
-
Macam garis dan tebal garis
-
Huruf dan angka
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
0123456789 ~!@#$%^&*()_+|
Bentuk Huruf Miring ISO
Ukuran huruf
Tinggi h dari huruf besar diambil sebagai dasar ukuran. Daerah standar tinggi huruf adalah sebagai berikut : 2,5;3,5;5;7;10; 14; dan 20 mm
Tinggi h ( huruf besar) dan c ( tinggi huruf kecil) tidak boleh kurang dari 2,5 mm. Bila terdapat gabungan antara huruf besar dan kecil, dengan huruf kecil setinggi 2,5 mm, maka h akan menjadi 3,5 mm
Tebal huruf d ditentukan oleh dua perbandingan standard d/h, yaitu antara d/h = 1/14 dan d/h = 1/10. Perbandingan yang dianjurkan untuk tinggi huruf-huruf kecil, jarak antara huruf-huruf, ruang minimum antara garis dasar dan jarak antara perbatasan-perbatasan diberikan pada table berikut :
Huruf A ( d= h/14)
| Sifat | Perbandingan | ukuran | ||||||
| Tinggi huruf h Tinggi huruf besar Tinggi huruf kecil c (tanpa tangkai dan kaki) | (14/14)h (10/14)h | 2,5 | 3,5 2,5 | 5 3,5 | 7 5 | 10 7 | 14 10 | 20 14 |
| Jarak antar huruf a Jarak minimum antara garis b Jarak minimum antara perkataan e | (2/14)h (20/14)h (6/14)h | 0,35 3,5 1,05 | 0,5 5 1,5 | 0,7 7 2,1 | 1 10 3 | 1,4 14 4,2 | 2 20 6 | 2,8 28 8,4 |
| Tebal huruf d | (1/14)h | 0,18 | 0,25 | 0,35 | 0,5 | 0,7 | 1 | 1,4 |
Huruf B ( d= h/10)
| Sifat | Perbandingan | ukuran | ||||||
| Tinggi huruf h Tinggi huruf besar Tinggi huruf kecil c (tanpa tangkai dan kaki) | (10/10)h (7/10)h | 2,5 | 3,5 2,5 | 5 3,5 | 7 5 | 10 7 | 14 10 | 20 14 |
| Jarak antar huruf a Jarak minimum antara garis b Jarak minimum antara perkataan e | (2/10)h (14/10)h (6/10)h | 0,5 3,5 1,5 | 0,7 5 2,1 | 1 7 3 | 1,4 10 4,2 | 2 14 6 | 2,8 20 8,4 | 4 28 1,2 |
| Tebal huruf d | (1/10)h | 0,25 | 0,35 | 0,5 | 0,7 | 1 | 1,4 | 2 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar